Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan belajar murid. Pemetaan kebutuhan belajar murid yang kita lihat lewat 3 aspek yaitu, kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid. Kebutuhan belajar murid ini harus menjadi dasar bagi praktek diferensiasi yang kita lakukan di kelas. Setelah kita mengidentifikasi kebutuhan belajar murid kita, maka kita kemudian dapat menentukan apa strategi diferensiasi yang ingin kita lakukan. Diferensiasi itu sendiri, bisa kita lakukan dalam beberapa strategi yaitu, diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.
1. Diferensiasi Konten
Konten itu sendiri adalah apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap tingkat kesiapan, minat atau profil belajar murid yang berbeda atau juga terhadap kombinasi dari kesiapan, minat, dan profil belajar murid. Carol Ann Tomlinson memberikan kita alat yang disebut Equliazer, yang dapat membantu guru mengukur kesiapan murid.

Jika memetahkan kebutuhan berdasarkan kesiapan murid, maka kita perlu menentukan jenis informasi yang harus disiapkan. Siapa yang perlu diberikan bahan-bahan belajar yang sifatnya foundational dan siapa yang akan kita berikan bahan-bahan belajar yang jenis informasinya bersifat transformational. Bahan-bahan belajar yang bersifat foundational atau mendasar misalnya, dasar-dasar, fakta umum, prinsip-prinsip. Jadi, sifat dari informasi, ide-ide atau teks yang harus diakses oleh mereka juga harus di level yang mendasar. Sementara disisi lain untuk murid yang sudah siap untuk mempelajari materi yang lebih bersifat transformational maka kita harus siapkan bahan ajar yang sesuai yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan ide-ide. Misalnya, kita dapat memberikan tantangan, pertanyaan-pertanyaan pemandu yang membantu mereka mengembangkan pemahaman dan memperluas ide secara lebih dalam dan lebih jauh lagi.
Diferensiasi konten juga bisa dilakukan berdasrkan minat murid misalnya, saat belajar tentang teks narasi guru dapat menyediakan murid-muridnya berbagai teks dengan topik tentang hal-hal yang disukai murid. Sementara itu, diferensiasi konten berdasrkan profil belajar dapat kita lakukan misalnya, dengan memastikan bahwa murid kita dapat mengakses materi ajar tersebut sesuai dengan gaya belajarnya. Sebagai contoh, murid yang memiliki gaya belajar visual mungkin akan belajar lebih baik jika materinya diberikan dalam bentuk gambar, sementara untuk mereka yang audiotori materinya dapat diberikan dalam bentuk audio.
2. Diferensiasi Proses
Yang dimaksud proses itu sendiri mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa informasi atau materi yang dipelajari. Saat kita memetahkan kebutuhan belajar murid yang kemudian kita harus pikirkan adalah bagaimana kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dan caranya seperti apa. Proses seperti apa yang perlu disiapkan agar kita mengetahui bahwa setiap murid belajar, apakah murid-murid kita akan bekerja mandiri atau dalam kelompok. Kita perlu juga berpikir tentang seberapa banyak jumlah bantuan yang kita berikan kepada murid-murid kita. Siapa saja yang memerlukan banyak bantuan, siapakah yang cukup kita berikan bantuan dalam bentuk pertanyaan pemandu dan mereka kemudian bisa bekerja dengan mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan sebagai bagian dari skenario pembelajaran yang kita rancang.
Ada banyak cara yang kita lakukan diferensiasi proses misalnya, kita dapat melakukan kegiatan berjenjang, kita dapat menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan, membuat agenda individual, memvariasikan lama waktu, mengembangkan kegiatan bervariasi, dan menggunakan kelompok yang fleksibel.
3. Diferensiasi Produk
Ketika kita bicara tentang diferensiasi produk maka kita akan memikirkan tentang tagihan apa yang kita harapkan dari murid. Produk ini adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan oleh murid kepada kita. Produk adalah sesuatu yang ada wujudnya, bisa berbentuk karangan atau tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting produk ini harus mencerminkan pemahaman murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Kita dapat melakukan diferensiasi produk dengan berbagai cara namun sama seperti jenis-jenis diferensiasi yang lainnya. Kita perlu mempertimbangkan kebutuhan belajar murid kita terlebih dahulu sebelum menentukan penugasan produk ini. Penugasan produk harus membantu murid baik secara individu atau dalam kelompok. Memikirkan kembali menggunakan dan memperluas apa yang mereka pelajari selama periode waktu tertentu, satu unit, satu semester, atau bahkan satu tahun. Produk penting bukan hanya karena mereka mewakili pemahaman dan aplikasi dalam bentuk yang luas tetapi juga karna mereka adalah elemen kurikulum yang paling langsung dapat dimiliki oleh murid. Pada dasarnya, pendiferensiasi produk meliputi dua hal yang pertama, memberikan tantangan dan keragaman/variasi, yang kedua, memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.
Sangat penting bagi guru untuk menentukan apa sebenarnya ekspetasi yang diharapkan dari murid. Kualitas pekerjaan apa yang diingkan, konten apa yang harus ada dalam produk mereka, bagaimana mereka harus mengerjakannya dan apa sifat dari produk akhir yang diharapkan tersebut.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, lingkungan sangatlah berpengaruh terhadap kesuksesan implementasinya. Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun di atas apa yang kita sebut sebagai Learning Community (Komunitas Belajar). Learning Community (Komunitas Belajar) adalah komunitas yang semua anggotanya adalam pemelajar. Guru-guru akan memimpin muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang saling mendukung tumbuhnya lingkungan belajar.
Berikut ini adalah beberapa karakteristik Learning Community (Komunitas Belajar) yang disebutkan oleh Carol Ann Tomlinson.
- Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik
- Setiap orang di dalam kelas tersebut saling menghargai
- Murid akan merasa aman
- Ada harapan bagi pertumbuhan
- Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan
- Ada keadilan dalam bentuk yang nyata
- Guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama
Pembelajaran berdiferensiasi dapat memiliki keterkaitan antara filosofi Ki Hadjar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak dan budaya positif. Adapun keterkaitannya sebagai berikut:
- Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Guru bertugas mengembangkan potensi yang dimiliki oleh murid sesuai kodratnya.
- Pembelajaran berdiferensiasi dapat terwujud apabila seseorang telah memiliki nilai guru penggerak dan telah menjalankan perannya sebagai guru penggerak dengan baik.
- Pembelajaran berdiferensiasi dapat membentuk profil pelajar pancasila sesuai dengan visi guru penggerak dan sekolah yang dibangun berdasarkan pemetaan kekuatan internal dan eksternal melalui sebuah konsep pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) yang dilalui dengan tahapan BAGJA.
- Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas diperlukan suatu lingkungan belajar yang aman, nyaman dimana terdapat suatu budaya positif dalam kelas tersebut.














